Yusmini's Blog

Berikut ini pembahasan UN 2017, materi Benzena dan Turunannya.

Senyawa organik memiliki struktur sebagai berikut

benzena Read the rest of this entry »

Ice breaker adalah permainan atau kegiatan yang berfungsi untuk mengubah suasana kebekuan dalam kelompok. Beberapa kegiatan ice breaker tersebut adalah sebagai berikut:

1. The Artist Game

Tujuan:

  • Mengarahkan pengenalan pribadi setiap peserta melalui gambar
  • Mempercepat pencairan suasana pelatihan dengan pengenalan secara baik terhadap peserta

Material:

  • Kertas
  • Bolpoin atau pensil

Durasi:

  • 5 menit untuk menggambar
  • 1/4 menit untuk memperkenalkan diri

Prosedur:

  • Berikan sebuah kertas dan pensil pada masing-masing peserta
  • Dalam waktu 5 menit, mereka harus menggambar sesuatu yang berhubungan dengan diri mereka, tanpa menulis huruf ataupun nomor
  • Setelah waktunya habis, instruktur mengambil gambar para peserta. Tunjukkan satu per satu gambar tersebut pada grup, dan biarkan mereka menebak, siapa yang menggambar gambar tersebut.
  • Setelah itu, para peserta harus memperkenalkan diri mereka dan menjelaskan apa yang mereka gambar.

2. Menebak Benda

Tujuan:

  • Berlatih peka melihat perubahan dengan cermat
  • Latihan ketelitian dan daya ingat
  • Mengenal lebih dekat kawan bermain/sekelas

Material:

  • Sarung tangan karet
  • Kertas
  • Bolpoin

Peserta:

  • Semua umur
  • Besar kelompok 8 – 20 orang

Durasi:

  • 15 menit

Prosedur:

  • Masukkan 20 macam benda kecil ke dalam karung. Bawalah masuk karung itu di tengah ruangan. Jelaskan bahwa permainan ini menguji kepekaan sentuhan tangan setiap orang untuk menebak benda-benda yang ada di dalam karung.
  • Bagilah peserta menjadi beberapa kelompok dan bagikan kertas serta alat tulis. Undanglah satu kelompok untuk maju mendekati karung. Ajaklah semua anggota kelompok meraba-raba karung itu untuk menebak apa gerangan benda itu. Beri waktu kepada mereka selama 3 menit.
  • Setelah itu setiap kelompok menuliskan tebakan mereka di kertas. Di akhir permainan, keluarkan benda-benda dalam karung itu dan tunjukkan kepada seluruh peserta. Cocokkan tebakan setiap kelompok.

Variasi

  • Berikan sarung tangan karet kepada kelompok yang sedang menebak isi karung. Dengan sarung tangan itu, kepekaan sentuhan setiap peserta menjadi berkurang. Biarkan mereka memasukkan tangan ke dalam karung untuk menyentuh benda di dalamnya, tetapi tanpa melihat.

Image

Suatu waktu Nabi saw. berjalan melintasi dua kuburan. Kuburan-kuburan itu baru saja ditanam. Beliau bersabda, “Sungguh kuburan keduanya sedang disiksa. Tidaklah mereka disiksa karena mengerjakan dosa tiada tara. Adapun salah satunya, tak sempurna bebersih kotorannya. Yang kedua, ke sana kemari suka ia memfitnah saudaranya.”

Lalu Nabi saw. memetik dahan pohon yang masih muda. Dibelahnya menjadi dua dan menancapkannya di atas pusara. Sahabat bertanya, “Mengapa engkau lakukan itu wahai Nabi yang mulia?” Sabdanya, “Semoga Allah swt. ringankan keduanya selama kedua dahan itu belum menjadi kering adanya.”

Seringkali orang menganggap remeh suatu pekerjaan yang dianggapnya kecil. Jika perbuatan itu baik, dianggapnya tak bernilai. Padahal bisa jadi pahalanya sangat besar. Seperti menyingkirkan duri, pecahan kaca atau halangan lain dari jalan termasuk perbuatan dengan pahala besar. Sebaliknya perbuatan buruk yang dianggapnya kecil ternyata membawa dampak yang berat baginya. Rasulullah saw. memberikan contoh terhadap orang yang disiksa kubur. Pelajaran tersebut diberikan Rasulullah saw. kepada para sahabatnya pas tiba di depan kuburan. Mereka yang terkena siksa kubur bukan karena kejahatan berat yang telah mereka lakkan. Namun karena perbuatan yang mereka anggap kecil tapi tidak demikian di mata Allah.

Contoh yang disampaikan adalah seorang yang tidak sempurna dalam bersuci. Jika buang hajat ia tidak membersihkan sisa-sisanya. Atau kalaupun membersihkan hasilnya tidak selalu bersih. Orang mungkin menganggapnya sepele. Tapi Islam menganggap itu fatal. Sebab dengan dirinya tidak bersuci maka dia tidak dapat melaksanakan shalat. Dirinya akan terus dikitari oleh jin-jin yang memang suka dengan bau kurang enak itu. Di akhirat pun masih mendapatkan siksa.

Contoh lain adalah seseorang yang gemar memfitnah. Lidahnya bercabang seperti ular sehingga tiap berita, terutama yang menyangkut aib seseorang mudah menyebar melalui lidahnya. Orang yang suka memfitnah saudara ini di alam kubur akan disiksa. Inilah beratnya dosa yang suka diremehkan. Jangankan di neraka kelak yang siksanya sungguh pedih. Di alam kubur saja Allah sudah mulai menyiksanya sampai kiamat datang.

Meskipun terlihat sepele, dua dosa tersebut jangan sekali-kali dilakukan.

Mulailah dengan hidup bersih dan suci. Jangan buang air kecil sembarangan. Siapkan alat pembersih (tissue) apabila sewaktu-waktu kita buang air di tempat yang sulit air atau kotor. Dan yang terpenting, jangan suka memfitnah. Apalagi kepada saudara sendiri. Jaman sekarang ini tidak ada Nabi yang dapat menancapkan dahan pohon untuk meringankan beban siksanya. Kalau sudah tahu dalam siksa kubur tidak ada yang bakal menyelamatkannya, maka jangan sekali-kali keduanya kita lakukan.

Sumber: Hikmah dari Langit (Penulis: Ust. Yusuf Mansur & Budi Handrianto), 2007

Peribahasa “diam itu emas” tidak hanya dikenal di negara kita atau di Inggris. Beberapa waktu yang lalu, ketika saya berkunjung ke Maroko untuk menghadiri suatu diskusi keagamaan, peribahasa tersebut saya dengar juga: “Diam itu emas dan bicara itu perak.”

Tanpa menelusuri dari mana asal muasal peribahasa tersebut, yang jelas, makna dan arah yang ditujunya sejalan dengan tuntunan agama. Sekian banyak petunjuk agama yang mendorong agar seseorang selalu menimbang-nimbang segala apa yang diucapkannya, karena seperti peringatan Al-Qur’an: Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qaf, 50:18)

“Pembicaraan” dalam bahasa Al-Qur’an dinamakan kalam. Dari akar kata yang sama dibentuk pula kata yang berarti “luka” agar menjadi peringatan bahwa¬†kalam juga dapat melukai. Bahkan, luka yang diakibatkan oleh lidah bisa lebih parah daripada yang diakibatkan oleh pisau.

Ini seharusnya mengantarkan seseorang untuk selalu berhati-hati, memikirkan, dan merenungkan apa yang akan diucapkannya: “Anda menawan apa yang akan Anda ucapkan, tetapi begitu terucapkan maka Andalah yang menjadi tawanannya.”

Ada sementara orang memiliki “nafsu” berbicara melebihi “selera” makannya. Ia berbicara tentang apa saja, seakan-akan ia mengetahui segala sesuatu atau seakan-akan hidupnya hanya digunakan untuk berbicara. Dalam tuntunan agama, jangankan berbicara dalam bentuk menguraikan pendapat, berbicara dalam bentuk bertanya sekalipun diingatkan agar tidak sembarangan. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, (justru) menyusahkan kamu. Jika kamu menanyakannya ketika Al-Qur’an sedang diturunkan, (niscaya) akan diterangkan kepadamu. Allah telah memaafkan (kamu) tentang hal itu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyantun. (QS. Al-Maidah, 5:101)

Terkadang suatu pembicaraan atau pertanyaan sepintas lalu terlihat sebagai berkaitan dengan agama, tetapi sebenarnya agama tidak merestuinya. Seseorang misalnya bertanya: “Apakah Anda berpuasa?” Apabila Anda menjawab “Ya”, maka jawaban ini dapat menimbulkan”riya” dan pamrih. Namun, apabila Anda menjawab “Tidak” sedangkan Anda berpuasa, maka Anda telah berbohong. Bila Anda diam tidak menjawab, maka Anda dapat dinilai angkuh, dan bila Anda menjawab secara diplomatis, maka paling tidak Anda dipaksa untuk memeras keringat berpikir guna menyusun redaksi yang tepat.

Keempat alternatif di atas tidak direstui oleh agama. Demikian lebih kurang tulis Imam Al-Ghazali.

Sifat umum dan dasar dari redaksi-redaksi al-Qur’an adalah singkat dan padat. Begitu juga khutbah dan sabda-sabda Nabi. “Salah satu tanda kedalaman ilmu seseorang adalah mempersingkat khutbah (Jum’at),” demikian sabda Rasulullah saw.

Agaknya cukup banyak materi pembicaraan kita — termasuk dalam uraian-uraian keagamaan — yang sewajarnya tidak perlu diucapkan, sebagaimana tidak sedikit pembicaraan dan pertanyaan yang sewajarnya tidak atau belum perlu diajukan.

Ketika Neil Amstrong menginjakkan kakinya di bulan, ada yang bertanya: “Bagaimana seorang Muslim melaksanakan shalat di bulan?” Jawaban yang paling tepat ketika itu adalah: “Masalah ini akan kita bahas bila telah ada seorang Muslim yang mendarat di sana.” Disinilah, antara lain, berlaku ungkapan “DIAM ITU EMAS DAN BICARA ITU PERAK.” Wallahu A’lam

Sumber: Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, M. Quraish Shihab, Bandung: Mizan, 2007 (Cetakan XXXI)

Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika raja ingin menguji kesadaran warga kotanya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit di tengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, “Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota.

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa yang kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya, semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi, bahkan mungkin sering terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petnjuk-petunjuk agar kejadian tersebut seperti di atas tidak terjadi.

Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf, 12: 108)

Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.

Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri. Kobarkanlah (semangat) orang-orang beriman (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak (mematahkan) serangan orang-orang yang kafir itu. Allah sangat besar kekuatan-Nya dan sangat keras siksa(-Nya). (QS. An-Nisa, 4:84)

Perhatikanlah kata-kata “tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri”. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu.” Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental yang demikian inilah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.#

Image

 

Sumber: Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, M. Quraish Shihab, Bandung: Mizan, 2007 (Cetakan XXXI)

Berikut ini daftar nama-nama guru peserta OSN Guru Tingkat Nasional 2013, dapat dilihat diwebsite resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dan dapat juga didownload disini.

Blog Annunaki

5 Hal Penting yang harus disetting di Blog WordPress Baru. Bagi bro/sis yang sudah punya blog mungkin hal ini tidak terlalu penting, namun jika bro dan sis mau membuat blog baru khususnya yang berplatform self hosting dengan software WordPress maka 5 poin di bawah ini penting untuk diperhatikan.

Apa saja? Yuuk kita simak :

View original post 665 more words

Recent Comments

Archives

Blog Stats

  • 2,280 hits
February 2019
M T W T F S S
« Dec    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728  
Yusmini's Blog

Just another WordPress.com site

Tentang GURU

JIKA ANDA PIKIR PENDIDIKAN ITU MAHAL, COBALAH KEBODOHAN

Bisakimia

Situs Kimia Terintegrasi

Tutorial Blog Lengkap

Akhirnya Aku bisa Ngeblog

Tunsa

Catatan Kehidupan

enkripsi

Berbagi KISAH, PENGETAHUAN, dan PENGALAMAN :)

Ardhacixerzz's Blog

Just another WordPress.com weblog

Blog Urip Guru Kimia

Berbagi informasi tentang pengajaran kimia, pendidikan, opini, dan TIK

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.